MBG Berubah Jadi Prasmanan: Diuji Coba di 60 Dapur, Begini Sistem Barunya
BGN mulai menguji model MBG prasmanan pada 5 Oktober 2026. Keterangan Kepala BGN yang dikutip sejumlah media menyebut piloting sudah berjalan di lebih dari 60 dapur/SPPG.
Feature image: ilustrasi editorial tumbas.in.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang memasuki eksperimen baru dalam cara makanan disajikan kepada siswa. Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji model prasmanan di kelas pada 5 Oktober 2026. Kepala BGN Sudaryono menyebut piloting sudah berjalan di lebih dari 60 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ringkasnya: apa yang berubah?
Pada pola distribusi yang umum, porsi makanan disiapkan dari SPPG, dikemas, lalu dikirim ke sekolah. Dalam uji coba prasmanan, makanan dibawa ke sekolah dalam wadah besar dan disajikan lebih dekat dengan waktu makan. Di beberapa lokasi, siswa mengambil sendiri atau bergiliran membantu menyajikan makanan kepada teman-temannya.
- Makanan tidak selalu diporsikan satu per satu sejak dari dapur.
- Hidangan dibawa dalam kondisi hangat ke sekolah atau kelas.
- Porsi dapat lebih fleksibel sesuai kebutuhan siswa.
- Jika makanan masih tersedia, siswa yang membutuhkan dapat menambah porsi.
- Sisa makanan diharapkan berkurang karena porsi tidak harus sama untuk setiap anak.
Uji coba dimulai 5 Oktober 2026
Sejumlah laporan yang mengutip Kepala BGN menyebut uji coba model prasmanan dimulai pada 5 Oktober 2026. Pada hari itu, BGN menyampaikan bahwa piloting telah dilakukan di lebih dari 60 dapur/SPPG.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, dua sekolah disebut menjadi lokasi pilot, yaitu SDN Soprayan dan SD Muhammadiyah Bantar. Pelaksanaan di lokasi tersebut diberitakan berlangsung 5–16 Oktober 2026.
Pemerintah Kabupaten Blora juga mengumumkan bahwa wilayahnya menjadi salah satu daerah piloting MBG prasmanan. SDN 5 Ngawen menjadi salah satu contoh penerapannya. Informasi Pemkab Blora merujuk penugasan pilot dari BGN yang diterbitkan pada akhir September 2026.
Bagaimana sistem MBG prasmanan bekerja?
SPPG menyiapkan makanan → makanan dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat → hidangan ditempatkan di titik penyajian → siswa mengambil atau dilayani secara bergiliran → porsi dapat disesuaikan → sisa makanan dievaluasi.
BGN menyebut model ini memerlukan mekanisme pelayanan yang rapi. Sekolah dan SPPG tidak cukup hanya menyediakan meja dan wadah besar. Kebersihan alat, keamanan pangan, disiplin antrean, waktu penyajian, serta pengawasan guru dan petugas tetap menjadi bagian penting.
Mengapa BGN mencoba model prasmanan?
1. Makanan diharapkan lebih hangat dan segar
Model prasmanan dirancang agar makanan dibawa dan disajikan lebih dekat dengan waktu makan. Salah satu pertimbangan yang disampaikan Kepala BGN adalah menjaga makanan tetap lebih segar ketika sampai kepada penerima manfaat.
2. Porsi bisa lebih fleksibel
Kebutuhan makan setiap anak tidak selalu sama. Dengan prasmanan, porsi dapat disesuaikan. Apabila makanan masih tersedia, siswa yang membutuhkan dapat menambah. Fleksibilitas ini tetap harus berada dalam kerangka standar gizi.
3. Menekan food waste
Ketika porsi dibuat sama untuk semua siswa, sebagian makanan berpotensi tersisa. Pada model prasmanan, anak dapat mengambil sesuai kemampuan makannya. BGN berharap skema ini dapat mengurangi makanan terbuang, meski hasil akhirnya tetap perlu dibuktikan melalui evaluasi pilot.
4. Memperpendek rantai penyajian
Model prasmanan mencoba memindahkan titik porsi akhir lebih dekat kepada penerima manfaat. Namun perubahan tersebut bukan jaminan otomatis makanan menjadi lebih aman. Area penyajian justru perlu dikelola dengan disiplin agar tidak menjadi titik kontaminasi baru.
Bagaimana dengan keamanan pangan?
Perubahan cara penyajian harus berjalan bersama prosedur keamanan pangan yang ketat. Dokumentasi resmi Media Hub Polri pada 5 Oktober 2026 menunjukkan pemeriksaan food safety di SPPG Polres 50 Kota mencakup kebersihan lingkungan, persiapan bahan, proses pengolahan, penyajian, kebersihan wadah, penggunaan alat pelindung diri, hingga uji organoleptik terhadap rasa, aroma, dan kondisi visual makanan.
Dalam sistem prasmanan, perhatian tambahan diperlukan pada alat penjepit atau sendok saji, kebersihan tangan siswa, potensi makanan tersentuh, antrean, serta durasi makanan berada di area penyajian.
Apakah prasmanan berarti ompreng MBG dihentikan?
Belum. Informasi yang tersedia sampai 7 Oktober 2026 menunjukkan sistem prasmanan masih berupa uji coba atau piloting. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh MBG nasional akan langsung beralih menjadi prasmanan.
Hasil pilot perlu dievaluasi dari aspek keamanan pangan, kecepatan layanan, kebutuhan tenaga, kesiapan sekolah, peralatan, kepuasan siswa, kesesuaian porsi, dan jumlah sisa makanan.
Contoh penerapan di daerah
Blora, Jawa Tengah
Pemkab Blora menyebut kabupatennya menjadi salah satu daerah yang dipercaya melaksanakan piloting penyajian MBG prasmanan. SDN 5 Ngawen menjadi salah satu sekolah yang menjalankan model tersebut.
Daerah Istimewa Yogyakarta
Dua sekolah yang diberitakan menjadi lokasi pilot adalah SDN Soprayan dan SD Muhammadiyah Bantar. Kepala Regional BGN DIY menyatakan pilot berlangsung 5–16 Oktober 2026 dan respons awal penerima manfaat dinilai positif.
Pengalaman Cilegon
Model prasmanan pernah muncul dalam uji coba MBG di SDN Sukmajaya I, Cilegon, pada April 2025 melalui dukungan Hotel Aston. Pemkot Cilegon saat itu menyebut bentuk prasmanan dapat membantu meminimalkan sampah. Contoh ini bukan bagian dari pilot nasional Oktober 2026.
Kelebihan dan tantangan MBG prasmanan
| Aspek | Potensi kelebihan | Tantangan |
|---|---|---|
| Suhu makanan | Disajikan lebih dekat waktu makan | Kontrol waktu dan suhu |
| Porsi | Lebih fleksibel | Tetap sesuai standar gizi |
| Sisa makanan | Berpotensi berkurang | Perlu data hasil pilot |
| Pengalaman siswa | Melatih kemandirian | Antrean dan disiplin |
| Kebersihan | Alat saji bisa distandardisasi | Lebih banyak interaksi dengan makanan |
| Logistik | Porsi akhir di sekolah | Butuh wadah, meja, alat dan tenaga |
Apakah model ini meniru Jepang?
Sejumlah pemberitaan mengaitkan model ini dengan praktik makan sekolah di Jepang. Namun hal yang lebih penting adalah kesesuaiannya dengan kondisi Indonesia. Jumlah sekolah, jarak distribusi, kapasitas SPPG, budaya makan, dan fasilitas sangat beragam sehingga model yang berhasil di satu lokasi belum tentu dapat diterapkan sama persis di semua daerah.
Yang perlu diperhatikan sekolah dan orang tua
- Apakah makanan tiba tepat waktu dan masih layak dikonsumsi?
- Apakah alat saji dibersihkan dengan benar?
- Apakah siswa mencuci tangan sebelum mengambil atau membagikan makanan?
- Apakah porsi tetap memenuhi komposisi gizi?
- Apakah siswa dengan alergi atau kebutuhan khusus terdata?
- Bagaimana sisa makanan dicatat dan dievaluasi?
- Siapa yang menangani keluhan setelah makan?
Jangan salah paham dengan angka “60 dapur”
Istilah “60 dapur” banyak muncul dalam judul berita. Namun pernyataan yang dikutip dari Kepala BGN menyebut lebih dari 60 dapur. Informasi pemerintah daerah dapat menyebut jumlah berbeda karena merujuk pada penugasan atau kelompok pilot tertentu. Karena itu, konteks tanggal dan cakupan penugasan harus diperhatikan.
Apa yang terjadi setelah uji coba?
Setidaknya ada lima hal yang perlu dievaluasi: keamanan pangan, kualitas makanan, sisa makanan, efisiensi operasional, dan penerimaan siswa. Bila hasilnya positif, model dapat dipertimbangkan untuk diperluas secara bertahap. Bila ada masalah baru, desain operasional dapat diperbaiki sebelum ekspansi.
Kesimpulan
Uji coba MBG prasmanan menjadi salah satu perubahan operasional menarik dalam Program Makan Bergizi Gratis. Sejak 5 Oktober 2026, BGN menyatakan piloting telah berjalan di lebih dari 60 dapur/SPPG.
Gagasan utamanya adalah membuat makanan lebih dekat ke waktu konsumsi, memberi fleksibilitas porsi, memungkinkan tambahan bila tersedia, dan menekan sisa. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada keamanan pangan, standar gizi, kebersihan, pengawasan, dan kesiapan sekolah maupun SPPG.
Sumber dan verifikasi
- Pemkab Blora: Blora Jadi Salah Satu Piloting MBG Prasmanan. Sumber pemerintah daerah; menyebut Blora sebagai salah satu lokasi piloting dan merujuk Nota Dinas BGN.
- Media Hub Polri: Food Safety Rutin Jadi Cara Polres 50 Kota Pastikan Keamanan Pangan Program MBG. Sumber resmi Polri tentang pemeriksaan keamanan pangan MBG pada 5 Oktober 2026.
- Pemkot Cilegon: Uji Coba Makan Bergizi Gratis di SDN Sukmajaya I. Sumber pemerintah daerah yang mendokumentasikan model prasmanan MBG sebelumnya.
- Kompas.com: Dua SD di DIY Jadi Pilot Project MBG Prasmanan. Konfirmasi pilot DIY dimulai 5 Oktober 2026.
- detikHealth: BGN Uji Coba MBG Model Prasmanan di 60 Dapur, Ini Alasannya. Mengutip Kepala BGN Sudaryono terkait skema prasmanan, makanan hangat, porsi tambahan, dan pengurangan sisa.
- CNN Indonesia: BGN Uji Coba MBG Prasmanan, Siswa yang Sajikan Makanan ke Kelas. Konfirmasi uji coba di lebih dari 60 SPPG dan keterlibatan siswa.
- Republika: Tiru Jepang, BGN Uji Coba MBG Prasmanan. Mengutip pernyataan Kepala BGN bahwa pada 5 Oktober piloting berjalan di lebih dari 60 dapur.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar