Beberapa Tradisi Unik Menyambut Bulan Puasa Di Semarang.

Nia Nudiansyah

Nia Nudiansyah

May 03, 2019 — 2 mins read

Sebagai kota tujuan wisata budaya dan religi, Semarang memiliki banyak tradisi unik yang hanya berlangsung menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini bisa dibilang berbeda dengan tradisi yang dilakukan di kota-kota lainnya. Adanya akulturasi antara tiga budaya : Arab, Belanda, dan Tionghoa, membuat Semarang memiliki tradisi unik serta memiliki karakter yang kuat.

Mengarak Warag Ngendog Di Festival Dugderan Semarang

Mengarak Warag Ngendog Di Festival Dugderan Semarang

Menjelang bulan puasa dapat menjadi saat yang tepat untuk menikmati suguhan tradisi dan budaya khas Kota Semarang. Apalagi menjelang bulan Ramadhan kali ini, yang jatuh di bulan Mei,  juga bertepatan dengan Hari Jadi Kota Semarang yang ke- 472. Sudah menjadi kebiasaan bahwa pada saat hari jadi, banyak festival dan agenda budaya yang dihelat di Semarang.

Untuk memperingati hari jadinya yang ke-472, kali ini Kota Semarang membuat sebuah gelaran yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak 24 ribu penari memadati sepanjang Jalan Pemuda Kota Semarang sejak pagi hingga siang hari.

Para penari tersebut terdiri dari berbagai kalangan mulai dari siswa sekolah dasar, ASN, anggota TNI, Polri, dan lainnya. Mereka kompak menari Tari Semarangan dengan sejumlah instruktur berdiri di beberapa panggung kecil yang disiapkan. Berpakaian kebaya encim putih dan kain Semarangan menjadikan sepanjang jalan Pemuda tampak meriah.

Beberapa hari sebelumnya, ratusan warga memenuhi lorong gang Kampung Bustaman. Wajah mereka dicoreng dengan beragam warna cat tubuh. Mereka bersiap untuk saling serang dalam perang air di acara Gebyuran Bustaman, pada hari Minggu (28/4/2019) di Kampung Bustaman, Kota Semarang.

Cat yang memenuhi wajah dan tubuh merupakan simbol dosa dalam diri manusia. Nantinya dosa-dosa itu akan dihapuskan dengan saling mengguyur air hingga cat tersebut luruh. Tradisi ini dinamakan dengan Gebyuran Bustaman.

Kampung Bustaman sendiri dikenal sebagai kampung penjagalan kambing. Jika sering mendengar kuliner khas bernama Gulai Bustaman, dari kampung ini jugalah kuliner tersebut muncul.

Selain tradisi Gebyur Bustaman tadi, yang tidak pernah ketinggalan setiap tahunnya adalah tradisi Dugderan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, Dugderan 2019 akan terasa lebih spesial dan berbeda karena adanya warak raksasa setinggi enam meter. Warak ini merupakan sponsor dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Keberadaan warak raksasa ini akan semakin melengkapi karnaval dan arak-arakan yang diperkirakan melibatkan kurang lebih 2.500 peserta karnaval.

Dugderan sendiri dikenal warga masyarakat sebagai sebuah tradisi khas Kota Semarang yang menandai dimulainya ibadah puasa di bulan suci Ramadan yang diadakan Perayaan dibuka oleh wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama "dugderan" merupakan onomatope dari suara letusan). "Dug" yang berarti bunyi yang berasal dari bedug yang dibunyikan saat ingin shalat Maghrib. Sementara "deran" adalah suara dari mercon yang dimeriahkan oleh kegiatan ini.

Tradisi dugderan ini telah diadakan sejak tahun 1882 pada masa Kebupatian Semarang di bawah kepemimpinan Bupati R.M. Tumenggung Ario Purbaningrat. Perayaan yang telah dimulai sejak zaman kolonial ini dahulu dipusatkan di kawasan Masjid Agung Semarang atau Masjid Besar Semarang (Masjid Kauman) yang berada di pusat kota lama Semarang dekat Pasar Johar.

Dugderan kali ini, rombongan peserta arak-arakan ini akan melalui rute Halaman Balaikota – Jalan Pemuda – Masjid Agung Semarang – Kauman – Jolotundo – Masjid Agung Jawa Tengah.

Info
Read this next

Tentang Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan bagi seorang muslim dan muslimah yang sudah mampu untuk menunaikannya. Zakat fitrah merupaka...

You might enjoy

Tumbasin Belanja Jadi Mudah

Pilihan belanja melalui internet kini makin beragam. Developer asal Semarang, Jawa Tengah mengembangkan sebuah aplikasi yang memfasilitasi t...